Tentang BPBD Kota Ambon

Kota Ambon berada sebagian besar dalam wialayah pulau ambon dan secara geografis terletak pada posisi 3o - 4o Ls dan antara 128o -129o BT. Kota ambon sebelah utara berbatasan dengan Petuanan Desa Hitu, Hila, Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Banda, sebelah timur berbatasan dengan Petuanan Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah dan sebelah barat berbatasan dengan Petuanan Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku tengah. Kota Ambon ini memiliki luas wilayah 377 Km2.

Secara administratif Kota ambon ini terbagi menjadi 5 (lima) Kecamatan, 30 (tiga puluh) Desa dan 20 (dua puluh) Kelurahan.

Kondisi geografis Kota Ambon yang 75% merupakan daerah perbukitan menjadi dilema bagi Pemerintah Kota (PEMKOT) terkait perlindungan dan keselamatan masyarakat, hal ini di akibatkan sebagian besar masyarakat membangun di daerah berlereng dengan kemiringan lereng di atas 15 – 20 %, yang berpotensi mengancam keselamatan nyawa khususnya bencana tanah longsor.

Hal ini merupakan akumulasi dari pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat dan sangat mempengaruhi tingkat kebutuhan masyarakat. Kota Ambon sendiri saat ini juga menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan kependudukan. Jumlah penduduk Kota Ambon di Tahun 2010 mencapai 330 ribu jiwa, tidak sebanding dengan ketersediaan lahan yang ada di kota ini dengan luas daratan hanya 337 Km2. Dari seluruh luas daratan wilayah hanya sekitar 17 persen yang dapat dihuni, karena sebagian besarnya adalah wilayah tebing dan pegunungan.

”Dapat dibayangkan, tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata Kota Ambon sebesar 5,97 persen dan tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan mengakibatkan berbagai permasalahan sosial yakni pemukiman yang tumbuh di daerah-daerah yang bukan peruntukannya, minimnya lapangan pekerjaan, serta semakin bertambahnya jumlah penduduk miskin, yang mencapai 10.690 KK (44.744 jiwa) di tahun 2010,”

Semangat membangun pada daerah berbukit sebagai akibat tidak adanya pilihan lokasi yang aman memang berdampak pada ketidak nyamanan dan ketidak selamatan masyarakat yang menghuni. Kebutuhan yang mendesak ini yang mengakibatkan pemerintah akan kesulitan untuk mengontrol perilaku masyarakat.

Tingginya curah hujan Di Kota Ambon sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2011, masih menebar ancaman banjir dan tanah longsor di sejumlah kawasan, Peristiwa tahun 2010 – 2011 telah memakan korban di berbagai lokasi. Antara lain: Ketika hujan terus mengguyur Kota Ambon beberapa hari lalu, ada berbagai bencana alam yang terjadi, diantaranya bencana alam tanah longsor yang terjadi di kawasan Kelurahan Batu Gajah Ambon, Batu Meja, Desa Hatalai Kecamatan Leitimur Selatan dan di Dusun Nahel Desa Amahusu Kecamatan Nusaniwe, serta lokasi banjir yang terjadi di Desa Batu Merah, Tanah Tinggi, Desa Passo dan sebagian daerah Wainitu.

Dari daerah yang mengalami longsor, Desa Hatalai dan Kelurahan Batu Gajah adalah daerah yang sangat parah, dimana sebagian rumah warga hancur tertimbun tanah, sehingga mengakibatkan sebagian kepala keluarga harus mengungsi, dimana rumah yang tertimpa longsor sebanyak 26 rumah yang terletak di RT.003 dan RT.004/RW.04 Kelurahan Batu Gajah, rabu.

Menurut warga sampai tanggal 27 Mei 2011 belum ada bantuan dari Pemerintah Provinsi Maluku/Kota Ambon padahal meraka sangat membutuhkan bantuan tersebut di tempat pengungsian. Bantuan yang mereka terima saat ini hanya dari Palang Merah Indonesia Cabang Ambon berupa beras dan mie isntan.

Pemerintah Kota telah memberikan bantuan darurat dengan memberikan karung untuk mencegah tanggul yang jebol akibat tingkat curah hujan yang tinggi, serta bantuan tanggap darurat juga telah disalurkan oleh Satkorlak Penanggulangan Bencana Kota Ambon sesuai dengan standar yang berlaku. Bahkan, tiap SKPD di lingkup Pemkot telah menyerahkan sumbangan sukarela dari para pegawai, berupa sembako dan pakaian layak pakai bagi korban bencana, sekaligus melakukan peninjauan di lokasi banjir dan longsor di lima belas titik pada lima Kecamatan di Kota Ambon. Selain itu pihaknya telah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Kota Ambon untuk melakukan penggerukan di lima buah sungai yang ada di Kota Ambon termasuk di daerah Batu Merah .

Semua ini di lakukan dengan menggunakan dana daerah, yang di sadari belum dapat menjawab keseluruhan kebutuhan bencana yang ada, sehingga perlu untuk melakukan pengusulan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana kota ambon melalui koordinasi terkait.

Susunan Kelembagaan

No Nama Jabatan
1 Sekertaris Kota Ambon Kepala BPBD
2 Ir. Enrico R. Matitaputty, M.Tech Kepala Pelaksana
3 Dra. Raihan Sopamena Sekretariat
4 Joab Lesnussa, SE Kasubag Umum dan Keungan
5 Eva M. F. Tuhumury, S.Hut Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan
6 Drs. Abdul Jabar Raharusun Kabid Kedaruratan dan Logistik
7 Nanlohy Johannis, S.Sos Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi
8 Jonathan Gomies Seksi Pencegahan
9 Wilfred P. Sekewael, MSP, SP Seksi Kedaruratan
10 Susanti Fadjariah, SE Seksi Logistik
11 D. Rumuar, MT, ST Seksi Rehabilitasi
12 R. H. Lekransy, ST, MSi Seksi Rekonstruksi
13 R. J Manuputty, SE Seksi Kesiapsiagaan
  • Berperan aktif membangun kota ambon yang tanggap, tangkas dan tangguh dalam menghadapi bencana.

    Terwujudnya kota ambon yang aman, nyaman dan sehat melalui penanganan bencana yang tanggap, terencana dan terkoordinir.

    1   Membangun kapasitas badan penanggulangan bencana daerah kota ambon melalui peningkatan sumber daya manusia (sdm) dalam optimalisasi peran penanggulangan bencana.

    2   Menyiapkan prosedur dan regulasi sebagai pedoman penanggulangan bencana dalam upaya membangun sistem penanggulangan bencana yang handal lewat koordinasi yang terbuka.

    3   Meningkatkan pemberdayaan dan peningkatan peran aktif masyarakat, dunia usaha, organisasi dan pemerintah, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam penanggulangan bencana.

    Disiplin dalam bekerja, santun dalam berbicara, dan prima dalam pelayanan, untuk mewujudkan profesionalisme kerja.

  • Peta Risiko

© 2015 BPBD Kota Ambon. All rights reserved.